Cara Menghitung Piutang Tak Tertagih: 2 Metode & Contohnya

Cara Menghitung Piutang Tak Tertagih: 2 Metode & Contohnya

TL;DR

Ada dua cara menghitung piutang tak tertagih: metode penghapusan langsung (langsung dihapus saat piutang dipastikan macet) dan metode penyisihan (dibuat estimasi di awal periode). Metode penyisihan lebih dianjurkan karena sesuai prinsip akuntansi dan PSAK 71. Estimasinya bisa dihitung lewat persentase penjualan atau analisis umur piutang, keduanya menghasilkan angka cadangan kerugian yang berbeda tergantung kondisi bisnis.

Piutang tak tertagih adalah bagian yang hampir pasti muncul dalam bisnis yang menjual secara kredit. Tidak semua pelanggan membayar tepat waktu, dan sebagian kecil memang tidak pernah membayar sama sekali. Masalahnya, jika kerugian ini tidak dicatat dengan benar, laporan keuangan Anda akan terlihat lebih sehat dari kenyataannya. Di situlah cara menghitung piutang tak tertagih menjadi penting untuk dipahami.

Dalam akuntansi, ada dua metode utama yang digunakan: metode penghapusan langsung dan metode penyisihan. Keduanya punya cara kerja yang berbeda, dan pilihan metode yang tepat bergantung pada skala bisnis serta kepatuhan terhadap standar akuntansi yang berlaku.

Apa Itu Piutang Tak Tertagih?

Piutang tak tertagih adalah piutang usaha yang tidak bisa ditagih karena pelanggan tidak mampu atau tidak mau membayar kewajibannya. Dalam bahasa akuntansi, ini dicatat sebagai beban (bad debt expense) yang mengurangi laba perusahaan.

Piutang jenis ini bisa muncul karena berbagai alasan: pelanggan bangkrut, pindah tanpa jejak, atau memang sejak awal tidak berniat melunasi. Apapun penyebabnya, perusahaan tetap wajib mencatatnya sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia, termasuk standar PSAK 71 yang sudah diterapkan penuh sejak 2020.

Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-Off)

Metode penghapusan langsung adalah cara paling sederhana: piutang langsung dihapus dari pembukuan begitu dipastikan tidak bisa ditagih. Tidak ada estimasi di awal, tidak ada akun cadangan. Kerugian baru diakui saat kejadian nyata terjadi.

Cara Mencatatnya

Saat piutang dihapus, jurnal yang dibuat adalah:

  • Debet: Beban Piutang Tak Tertagih
  • Kredit: Piutang Usaha

Contoh: PT Maju Jaya memiliki piutang kepada pelanggan sebesar Rp8.000.000 yang sudah 12 bulan tidak dibayar. Setelah berbagai upaya penagihan gagal, piutang ini dihapuskan.

Jurnalnya: Beban Piutang Tak Tertagih Rp8.000.000 (D) | Piutang Usaha Rp8.000.000 (K).

Keterbatasan Metode Ini

Metode penghapusan langsung melanggar matching principle dalam akuntansi karena kerugian diakui di periode berbeda dari penjualannya. Misalnya, penjualan terjadi di bulan Maret, tetapi penghapusan baru dilakukan di bulan November tahun berikutnya. Laba di bulan Maret terlihat lebih besar dari seharusnya.

Karena kelemahan ini, metode penghapusan langsung hanya diperbolehkan untuk jumlah yang tidak material. Untuk bisnis dengan volume penjualan kredit yang besar, metode penyisihan jauh lebih tepat.

Metode Penyisihan (Allowance Method)

Metode penyisihan bekerja dengan membuat estimasi di awal: sebelum piutang benar-benar macet, perusahaan sudah menyisihkan sejumlah dana sebagai cadangan kerugian piutang (allowance for doubtful accounts). Akun ini adalah akun kontra aset yang mengurangi nilai piutang usaha di neraca.

Ada dua pendekatan untuk menghitung besarnya estimasi tersebut: persentase penjualan dan analisis umur piutang.

1. Metode Persentase Penjualan

Pendekatan ini menggunakan data historis untuk menentukan berapa persen dari total penjualan kredit yang biasanya berakhir tidak tertagih. Metode ini sering disebut sebagai income statement approach karena fokusnya pada beban yang harus diakui di laporan laba rugi.

Rumus:

Estimasi Piutang Tak Tertagih = Total Penjualan Kredit x Persentase Historis

Contoh Perhitungan:

PT Sinar Abadi mencatat penjualan kredit tahun 2024 sebesar Rp2.500.000.000. Berdasarkan data 3 tahun terakhir, rata-rata 2% dari penjualan kredit tidak bisa ditagih.

Estimasi = Rp2.500.000.000 x 2% = Rp50.000.000

Jurnalnya di akhir periode:

  • Debet: Beban Piutang Tak Tertagih Rp50.000.000
  • Kredit: Cadangan Kerugian Piutang Rp50.000.000

Ketika ada piutang yang benar-benar dihapus di kemudian hari, jurnal yang digunakan adalah mendebet Cadangan Kerugian Piutang dan mengkredit Piutang Usaha. Akun Beban tidak disentuh lagi karena estimasinya sudah dicatat di awal.

2. Metode Analisis Umur Piutang (Aging of Receivables)

Metode ini lebih detail dan dianggap lebih akurat. Piutang dikelompokkan berdasarkan usianya, lalu masing-masing kelompok dikenai persentase kemungkinan tidak tertagih yang berbeda. Semakin lama umur piutang, semakin besar persentase yang diterapkan.

Ini adalah pendekatan yang umum digunakan di perusahaan menengah dan besar karena memberikan gambaran lebih realistis tentang kualitas piutang yang ada.

Contoh Tabel Analisis Umur Piutang PT Sinar Abadi (per 31 Desember 2024):

Kelompok UmurSaldo Piutang (Rp)% Tak TertagihEstimasi Kerugian (Rp)
Belum jatuh tempo800.000.0001%8.000.000
1-30 hari lewat jatuh tempo200.000.0003%6.000.000
31-60 hari lewat jatuh tempo80.000.00010%8.000.000
61-90 hari lewat jatuh tempo40.000.00020%8.000.000
Lebih dari 90 hari20.000.00050%10.000.000
Total1.140.000.00040.000.000

Dari tabel di atas, total cadangan kerugian piutang yang dibutuhkan adalah Rp40.000.000. Jika saldo akun cadangan saat ini sudah ada Rp15.000.000, maka beban piutang tak tertagih yang perlu diakui periode ini adalah:

Rp40.000.000 – Rp15.000.000 = Rp25.000.000

Perhatikan perbedaannya dengan metode persentase penjualan: di sini yang dicari adalah saldo akhir akun cadangan, bukan jumlah beban yang harus ditambahkan. Jadi saldo cadangan yang sudah ada harus diperhitungkan.

Perbedaan Utama Dua Metode Estimasi

Pemilihan antara persentase penjualan dan analisis umur piutang bukan sekadar soal kemudahan. Keduanya menghasilkan angka yang berbeda dan mencerminkan pendekatan berbeda dalam memandang risiko piutang.

AspekPersentase PenjualanAnalisis Umur Piutang
Dasar perhitunganTotal penjualan kreditSaldo piutang yang ada
Fokus laporanLaba rugi (beban)Neraca (saldo cadangan)
Tingkat detailSederhanaLebih rinci
Akurasi estimasiBergantung pada tren historisMencerminkan kondisi piutang saat ini
Cocok untukBisnis dengan pola kredit stabilBisnis dengan variasi umur piutang tinggi

Kaitannya dengan PSAK 71 dan Pajak

Sejak PSAK 71 berlaku penuh pada 2020, perusahaan yang menyajikan laporan keuangan berbasis IFRS diwajibkan menggunakan pendekatan expected credit loss (ECL). Ini berbeda dari metode incurred loss yang sebelumnya dipakai di PSAK 55: kerugian sudah harus diantisipasi sejak awal, bahkan sebelum ada bukti gagal bayar.

Dampaknya cukup signifikan, terutama untuk perusahaan perbankan dan pembiayaan. Cadangan yang harus disiapkan menjadi lebih besar karena memasukkan proyeksi kondisi ekonomi ke depan, bukan hanya melihat ke belakang. Menurut jstax.co.id, penerapan PSAK 71 juga berpotensi menimbulkan perbedaan temporer antara laba akuntansi dan laba fiskal karena tidak semua cadangan kerugian piutang diakui sebagai biaya yang boleh dikurangkan menurut perpajakan.

Secara pajak, piutang tak tertagih baru bisa diakui sebagai biaya fiskal jika memenuhi syarat yang diatur dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh: sudah diserahkan ke pengadilan negeri, sudah ada perjanjian tertulis tentang penghapusan piutang, atau sudah dipublikasikan di media massa. Ini berarti ada selisih waktu antara pencatatan akuntansi dan pengakuan pajak yang perlu dikelola dengan hati-hati.

Tips Menentukan Persentase yang Tepat

Tidak ada persentase universal yang berlaku untuk semua bisnis. Angkanya bergantung pada industri, profil pelanggan, dan kebijakan kredit perusahaan. Yang bisa dijadikan panduan awal:

  • Gunakan data historis minimal 3 tahun untuk menghitung rata-rata piutang yang tidak tertagih dibandingkan total penjualan kredit.
  • Bandingkan dengan angka industri sejenis, terutama jika bisnis Anda masih baru.
  • Perbarui persentase setiap tahun, terutama jika ada perubahan signifikan pada kondisi ekonomi atau profil pelanggan.
  • Untuk metode analisis umur piutang, Accurate.id menyebutkan bahwa persentase umum yang banyak dipakai adalah 1-2% untuk piutang belum jatuh tempo, 5% untuk 30-60 hari, 10-20% untuk 61-90 hari, dan 30-50% untuk lebih dari 90 hari, meski angka ini bisa disesuaikan dengan karakteristik bisnis masing-masing.

Persentase yang digunakan harus konsisten antar periode kecuali ada alasan yang jelas untuk mengubahnya. Mengubah persentase setiap tahun tanpa dasar yang kuat bisa memicu pertanyaan dari auditor atau fiskus.

Ketika Piutang yang Sudah Dihapus Tiba-Tiba Dibayar

Ini skenario yang lebih sering terjadi dari yang dibayangkan. Pelanggan yang piutangnya sudah dihapus ternyata membayar di kemudian hari. Dalam metode penyisihan, pencatatannya ada dua langkah:

  1. Balikkan jurnal penghapusan: Debet Piutang Usaha, Kredit Cadangan Kerugian Piutang.
  2. Catat penerimaan kas: Debet Kas, Kredit Piutang Usaha.

Dua langkah ini penting karena memastikan rekam jejak transaksi tetap lengkap. Catatan menunjukkan bahwa piutang sempat dihapus lalu pulih, bukan seolah-olah tidak pernah ada masalah.

Dalam metode penghapusan langsung, prosedurnya sama: piutang dipulihkan dulu ke pembukuan, kemudian pembayaran dicatat sebagai penerimaan kas biasa. Bedanya, jurnal pemulihan menggunakan akun Pendapatan Piutang Pulih, bukan akun cadangan.

Memilih Metode yang Sesuai untuk Bisnis Anda

Cara menghitung piutang tak tertagih yang paling tepat bergantung pada skala dan kebutuhan pelaporan bisnis Anda. Bisnis kecil dengan transaksi kredit terbatas dan piutang tidak material bisa menggunakan metode penghapusan langsung karena lebih praktis. Namun begitu volume penjualan kredit mulai signifikan, beralih ke metode penyisihan jauh lebih bijak.

Untuk metode estimasinya, analisis umur piutang memberi gambaran paling akurat karena mempertimbangkan kondisi piutang yang sebenarnya ada di buku, bukan hanya mengandalkan tren penjualan. Penelitian dari Universitas Sam Ratulangi menunjukkan bahwa metode analisis umur piutang menghasilkan estimasi yang lebih mencerminkan risiko aktual dibandingkan metode persentase tunggal, terutama pada perusahaan dengan portofolio pelanggan yang beragam.

Apapun metode yang dipilih, konsistensi dan dokumentasi yang baik adalah kuncinya. Estimasi yang berubah-ubah tanpa landasan yang jelas akan mempersulit rekonsiliasi laporan keuangan dan bisa menjadi temuan audit di kemudian hari.